Program Pengabdian kepada Masyarakat Kemitraan Internasional (PkM-KI) yang dilaksanakan oleh dosen Program Studi Pendidikan Akuntansi FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Jepang tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat diaspora, tetapi juga menghadirkan pengalaman akademik berharga bagi mahasiswa yang terlibat. Salah satunya dirasakan oleh seorang mahasiswi asal Demak yang berkesempatan mengikuti kegiatan tersebut secara langsung di Jepang. Nur’aeni Agustin, atau biasa dipanggil Rani, mahasiswa angkatan 2024 prodi Pendidikan Akuntansi, yang terlibat dalam pengabdian kepada masyarakat di Tokyo pada awal Februari 2026.

Dalam kegiatan tersebut, Rani tidak hanya berperan sebagai peserta perjalanan, tetapi juga terlibat dalam kegiatan akademik bersama dosen, seperti pendampingan kegiatan literasi keuangan, diskusi dengan diaspora Indonesia, serta observasi praktik kehidupan sosial dan ekonomi komunitas Indonesia di Jepang. Keterlibatan ini memberikan pengalaman belajar langsung mengenai bagaimana ilmu yang dipelajari di bangku kuliah dapat diterapkan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam konteks internasional. Rani juga menjadi tim dokumentasi dan penyunting video yang piawai.

Bagi dirinya, perjalanan tersebut terasa seperti pepatah “sekali dayung dua sampai tiga pulau terlampaui.” Dalam satu perjalanan, ia tidak hanya berkesempatan mengikuti kegiatan akademik di Jepang, tetapi juga sempat transit di Singapura dan mengunjungi Taman Merlion sambil mencoba beberapa kuliner khas setempat. Bahkan saat perjalanan pulang, ia juga sempat menikmati kopi Arabica di China, pengalaman yang menjadi kenangan tersendiri.

Perjalanan ini merupakan pengalaman pertamanya ke luar negeri, sekaligus pertama kalinya mengikuti kegiatan akademik internasional bersama dosen. Ia mengaku sangat bersyukur karena kesempatan tersebut datang melalui Program Studi Pendidikan Akuntansi.
“Awalnya saya tidak pernah membayangkan bisa sampai ke Jepang. Bagi saya pergi ke luar negeri terasa seperti sesuatu yang sangat sulit dan hampir tidak mungkin. Namun melalui kesempatan dari Prodi Pendidikan Akuntansi, harapan kecil itu akhirnya bisa terwujud,” ungkapnya.
Selama berada di Jepang, ia juga berkesempatan berinteraksi langsung dengan diaspora Indonesia, mempelajari dinamika kehidupan masyarakat Indonesia di luar negeri, serta memahami bagaimana literasi keuangan dan pengelolaan aset menjadi isu penting bagi komunitas diaspora. Selain itu, pengalaman yang paling berkesan adalah ketika ia merasakan salju untuk pertama kalinya di kawasan Fujiten.
Pengalaman ini juga menjadi momen refleksi bagi dirinya sebagai mahasiswa. Ia mengingat pesan dari salah satu dosen Pendidikan Akuntansi yang selalu memotivasi mahasiswa untuk berani mengambil peluang.
“Beliau pernah mengatakan, ‘Jangan menunggu kesempatan, karena kesempatan bukan untuk orang yang menunggu.’ Dari kata-kata itu saya yakin bahwa jalan yang saya pilih sudah tepat untuk terus bertumbuh dan berkembang di Prodi Pendidikan Akuntansi,” tuturnya.
Ia pun menyampaikan rasa terima kasih kepada para dosen dan Program Studi Pendidikan Akuntansi yang telah memberikan kesempatan tersebut.
“Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk bapak dan ibu dosen serta Prodi Pendidikan Akuntansi yang sudah memberikan kesempatan dan melukis pengalaman berharga dalam perjalanan hidup saya,” ungkapnya.
Pengalaman ini menjadi bukti bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat berbasis internasional tidak hanya memberikan dampak sosial bagi masyarakat, tetapi juga membuka wawasan global bagi mahasiswa dalam proses pembelajaran mereka.
